baca selengkapnya di : http://www.poetra-anoegrah.co.cc/2010/04/cara-mengubah-judul-blog-dengan-judul.html#ixzz1Ie8isVZF

Klik Kanan

Senin, 07 Maret 2011

PERANAN SOSIOLOGI TERHADAP DUNIA PENDIDIKAN

Dalam pengertian sederhana, sosiologi pendidikan memuat
analisis-analisis ilmiah tentang proses interaksi sosial yang terkait
dengan aktivitas pendidikan baik dari lingkup keluarga, kehi-
dupan sosio-kultur masyarakat maupun pada taraf konstelasi di
tingkat nasional. Sehingga dari sini bisa di dapat sebuah gambaran
objektif tentang relasi-relasi sosial yang menyusun konstruksi total
realitas pendidikan di negara kita. Sampai pada pemahaman
tersebut segala bentuk wawasan dan pengetahuan sosiologis guna
membedah tubuh pendidikan kita menjadi perlu untuk dibahas
agar proses-proses pengajaran tidak bias ke arah yang kurang
relevan dengan kebutuhan bangsa.
Di sisi lain, jika perhatian kita tertuju pada lembaran sejarah
perkembangan pendidikan masyarakat Indonesia, produk kema-
juan sosial, meningkatnya taraf hidup rakyat, akselerasi perkem-
bangan ilmu pengetahuan dan penerapan inovasi teknologi meru-
pakan bagian dari prestasi gemilang hasil jerih payah lembaga
pendidikan kita dalam upaya memajukan kehidupan bangsa Indo-
nesia. Meningkatnya jumlah kaum terpelajar telah menjadi bahan
bakar lajunya lokomotif kemajuan dan kesejahteraan rakyat Indo-
nesia. Akan tetapi, beberapa kendala yang melingkari dunia pen-
didikan dalam kaitan dengan menurunnya kualitas output
pendidikan kita menjadi bukti bahwa wajah persekolahan kita
memerlukan banyak perbaikan.
Melihat keberadaan sekolah begitu penting bagi eksistensi
dan keberlangsungan pendidikan di negara kita maka topik ini
akan mengarahkan lingkup kajian sosiologisnya kepada hakikat
peran dan fungsi lembaga sekolah sebagai lembaga pendidikan.
Tiga sub-judul berikutnya akan menindaklanjuti fokus pemba-
hasan dengan titik tekan yang lebih spesifik. Pada sub-judul per-
tama, banyak digali tentang hubungan-hubungan sosial di dunia
pendidikan dalam wadah organisasi formal. Di sini kriteria
sekolah sebagai salah satu wujud organisasi formal ditinjau dari
kaitan unsur-unsur sosial pendukungnya dalam proses mencapai
tujuan pendidikan. Pada sub judul kedua lebih menyoroti konteks
transaksi pendidikan di ruang kelas. Hal ini ditekankan, sebab
ruang kelas merupakan representasi dari proses-proses pendi-
dikan yang sesungguhnya, karena di dalamnya telah melibatkan
komponen-komponen belajar mengajar secara langsung. Sedang-
kan pada sub judul yang ketiga, tinjauannya bertolak dari kenya-
taan bahwa sekolah tidak bisa lepas dari hubungan wadah ekster-
nalnya. Kondisi sosio-kultur masyarakat tidak bisa tidak meru-
pakan salah satu faktor penting yang berpengaruh terhadap
proses-proses pendidikan di sekolah.
Tiga batasan tinjauan di atas akan dipaparkan sebagai upaya
untuk menyajikan beberapa manfaat analisis sosiologis terhadap
dunia pendidikan.
A. Sekolah sebagai Organisasi
Tempo dulu masyarakat sederhana belum mengenal lem-
baga-lembaga resmi yang mengatur penyaluran kebutuhan-
kebutuhan hidup mereka. Contohnya masyarakat Indian yang
tidak perlu meminta bantuan lembaga sekolah untuk mengajarkan
kepandaian memanah kepada generasi penerusnya. Bagi mereka,
cukup dengan uluran tangan dari para ayah dan saudara tuanya
maka bisa dipastikan hampir seluruh remaja-remaja muda mam-
pu menguasai teknik memanah dari tingkat dasar sampai kategori
mahir (Horton dan Hunt, 1999: 333). Seiring dengan bergulirnya
roda sejarah kehidupan, maka prestasi pengetahuan dan kete-
rampilan yang diperoleh manusia menjadi sedemikian kompleks,
sehingga pada fase inilah konsep pengetahuan dan kemampuan–
kemampuan gemilangnya telah menjadi penentu arah kehidupan
di masa yang akan datang. Beberapa faktor telah melatar bela-
kangi terbentuknya lembaga-lembaga tertentu untuk mengelola
alokasi pemenuhan kebutuhan di antaranya, (1) pertumbuhan
jumlah populasi manusia yang mempengaruhi tingkat penguasa-
an dan ketersediaan sumber daya alam, (2) kompleksnya pranata
kebudayaan dan mekanisme pengetahuan beserta teknologi
terapan, dan (3) implikasi tingkat akal budi dan mentalitas manu-
sia yang kian rasional.
Secara singkat, terbentuknya lembaga pendidikan merupakan
konsekuensi logis dari taraf perkembangan masyarakat yang4
sudah kompleks. Sehingga untuk mengorganisasikan perangkat-
perangkat pengetahuan dan keterampilan tidak memungkinkan
ditangani secara langsung oleh masing-masing keluarga. Perlunya
pihak lain yang secara khusus mengurusi organisasi dan apresiasi
pengetahuan serta mengupayakan untuk ditransformasikan kepa-
da para generasi muda agar terjamin kelestariaannya merupakan
cetak biru kekuatan yang melatarbelakangi berdirinya sekolah
sebagai lembaga pendidikan.
Walaupun wujudnya berbeda-beda dalam tiap-tiap negara,
keberadaan sekolah merupakan salah satu indikasi terwujudnya
masyarakat modern. Dalam hal ini para sosiolog telah melakukan
ikhtiar ilmiah untuk menentukan taraf evolusi perkembangan
masyarakat manusia. Dimulai dari Auguste Comte (1798-1857)
dengan karyanya yang berjudul Course de philosophie Positive
(1844). Beliau menekankan hukum perkembangan masyarakat
yang terdiri dari tiga jenjang, yaitu jenjang teologi di mana manu-
sia mencoba menjelaskan gejala di sekitarnya dengan mengacu
pada hal yang bersifat adikodrati. Taraf perkembangan selanjut-
nya disusul pencapaian manifestasi kemampuan manusia untuk
menangkap fenomena lingkungan dengan menyandarkan pada
kekuatan-kekuatan metafisik atau abstrak. Hingga pada level
tertinggi, taraf positif. Iklim kehidupan demikian ditandai dengan
prestasi kemampuan manusia untuk menjelaskan gejala alam
maupun sosial berdasar pada deskripsi ilmiah melalui pema-
haman kekuasaan hukum objektif (Sunarto, 2000 : 3). Dari
pengertian tersebut perwujudan manusia positivis hanya mampu
ditopang oleh orientasi pendidikan yang sudah terlembaga secara
mantap melalui aplikasi fungsi sekolah-sekolah modern.
Di lain pihak, tak kalah pentingnya buah pikiran Emile
Durkheim (1858-1912) berupa buku yang berjudul The Division of
Labour in Society (1968) juga menganalisis kecenderungan masya-
rakat maju yang di dalamnya terdapat pembagian kerja dalam
pemetaan bidang-bidang ekonomi, hukum, politik pendidikan,
kesenian dan bahkan keluarga. Gejala tersebut merupakan dam-
pak dari penerapan sistem ekonomi industri yang di dalamnya
memerlukan memerlukan spesialisasi peran untuk mengusung
keberhasilan dalam memenuhi kebutuhan hidup para anggotanya
(Johson, 1986 : 181-184). Sekali lagi ilustrasi di atas hanya dapat
tercermin pada konteks organisasi lembaga pendidikan yang telah
mampu memproduk manusia profesional dengan spesifikasi
keahlian. Sedangkan untuk mewujudkan figur-figur manusia itu
hanya mampu dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan
modern.
Dari kedua pernyataan ilmiah para tokoh sosiologi di atas
dapat ditarik kesimpulan bahwa keberadaan sekolah yang mewar-
nai dunia kehidupan manusia saat ini merupakan sebuah kenisca-
yaan peradaban modern yang lekat dengan renik-renik pergulatan
ilmu pengetahuan dan aplikasi teknologi mutakhir. Sementara
melihat konteks sosial yang terbentuk dapat dijawab pula sekolah
juga masuk dalam kategori-kategori organisasi pada umumnya
yang mengemban konsekuensi-konsekuensi organisatoris.
Oleh karena itu keberadaan sekolah patut dimasukkan seba-
gai salah satu organisasi yang memanfaatkan mekanisme biro-
kratis dalam mengelola kerja-kerja institusinya. Beberapa prinsip
penerapan birokrasi juga terdapat dalam lembaga sekolah antara
lain:
1. Aturan dan prosedur yang ketat melalui birokrasi,
2. Memiliki hierarki jabatan dengan struktur pimpinan yang
mempunyai hak dan kewajiban yang berbeda-beda,
3. Pelaksanaan adminstrasi secara professional,
4. Mekanisme perekrutan staf dan pembinaan secara bertang-
gung jawab,
5. Struktur karier yang dapat diidentifikasikan, dan
6. Pengembangan hubungan yang bersifa formal dan impersonal
(Robinson, 1981: 241).
Sekolah memang tidak menggunakan semua ketentuan-
ketentuan di atas secara ketat dan linear. Kaitan dengan hal ter-
sebut, Bidwell ,1965 (dalam Robinson, 1981). berpendapat bahwa
sekolah mempunyai ciri “struktur yang longgar”. Yang dimaksud
dengan kelonggaran struktural oleh Bidwell adalah prasyarat-
prasyarat mutlak dari kekuatan-kekuatan struktural tidak harus
dilaksanakan sepenuhnya oleh guru dalam menerapkan metode
belajar-mengajar kepada para siswanya. Tiap guru mempunyai
kebebasan tertentu untuk menentukan bagaimana ia mengajar di
kelas, walaupun perangkat-perangkat materinya telah ditentukan
oleh kurikulum di atasnya5
Masih dalam lingkup sekolah sebagai organisasi formal,
beberapa ahli telah menyajikan pranata-pranata manajemen yang
berbeda-beda dalam menerapkan fungsi manajemen di sekolah
(Robinson, 1981). Di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Manajemen Ilmiah
Pokok-pokok dari manajemen ilimiah antara lain:
- Menggunakan alat ukur dan perbandingan yang jelas dan
tepat,
- Menganalisis dan membandingkan proses-proses yang
telah dicapai, dan
- Menerima hipotesis terkuat yang lulus dari verifikasi serta
menggunakannya sebagai kriteria tunggal
Implikasinya jelas, penerapan kriteria tunggal bagi sekolah
demi mencapai maksimalisasi hasil-hasil belajar secara efisien dan
efektif. Tampak jelas jenis manajemen ini berkarakter mekanistis,
ketat, mengutamakan hasil kuantitatif, serta cenderung
mengesampingkan unsur-unsur manusiawi di dalam prosesnya.
2. Sistem Sosio-teknis
Sebagai sistem sosio-teknis, sekolah mencakup banyak hal
yang menjadi input organisasi, namun stafnya akan “mengetahui”
sifat input-inputnya. Dengan begitu sekolah dapat menentukan
instrumen-instrumen pengolahan demi menjamin hasil yang
optimal. Sampai di sini definisi sosio-teknis memberikan titik
tekan pada pengamatan dan pengelompokan jenis-jenis masukan
dalam sekolah lalu ditindaklanjuti dengan cara-cara yang relevan
dengan “bahan mentah” tersebut. Manajemen sosio-teknis masih
menggunakan prinsip manajemen formal, sehingga beberapa
unsur yang melekat pada prinsip manajemen ilmiah juga dimiliki
oleh sistem sosio-teknis.
3. Pendekatan Sistemik
Model pengelolaan yang paling banyak digunakan adalah
bentuk teori sistem. Ciri kahs pendekatan ini adalah pengakuan
adanya bagian-bagian suatu sistem yang terkait erat pada
keseluruhan. Hubungan timbal balik itu mengisyaratkan detail
bagian yang cukup kompleks dan proses interaksi secara
keseluruhan dalam sebuah organisasi. Implikasi lain, batas-batas
antarbagian harus diketahui dengan tegas dalam mengidentifikasi
komponen-komponen lembaga sekolah .
Secara internal model teori sistem, mengadopsi penanganan
lembaga formal pada umumnya untuk menggerakkan roda
organisasi. Akan tetapi pendekatan ini juga memperhatikan sistem
sosial yang bekerja di luar sekolah. Tiap sekolah berusaha pula
menampung tuntutan-tuntutan dari para orang tua siswa, industri
setempat, pendapat profesional dan kebijaksanaan pendidikan.
4. Pendekatan Individual
Baik pendekatan manajemen maupun pendekatan sistem
cenderung “membendakan” organisasi. Organisasi dipandang
seakan-akan seperti makhluk besar yang mengatasi dan menge-
cilkan peran anggota-anggotanya (terutama para murid). Sebagai
antitesisnya, maka pendekatan individual mengakomodasi nilai-
nilai kemanusiaan dalam organisasi. Akan tetapi pada perkem-
bangannya pendekatan individual memiliki dua keompok pan-
dangan yakni:
a. Teori Pasif
Pandangan yang menekankan pengamatan input pendidikan
secara kolektif. Di mana sudut terpenting yang harus diperhatikan
oleh sekolah adalah proses kematangan pribadi para siswa yang
harus difasilitasi, diakomodasi kebutuhannya dan dibimbing
menuju kedewasaan. Oleh karena itu, proporsi organisasi sekolah
yang cenderung mekanistis harus dipola menjadi flksibel agar
para anggotanya bisa berekspresi dengan optimal (Robinson, 1981:
252).
b. Teori Aktif
Konstruksi pendekatan yang mengutamakan kemampuan
aktif para siswa untuk menginterpretasikan makna-makna norma-
tif dan tindakan-tindakan yang diharapkan berdasarkan iklim
kesadaran mereka. Menurut Silverman (1970) proses sosialisasi di
sekolah bukanlah imperatif-imperatif moral yang memaksa akan
tetapi justru sekolah menjadi “pembantu” para siswa dalam
mendokumentasi dan memantapkan makna-makna kehidupan
yang didapat oleh mereka sendiri. Pendekatan ini sangat kental
dengan pengaruh aliran fenomenologis dalam sosiologi. Oleh6
karena itu teori aktif bermaksud menekankan makna-makna
tafsiran budaya yang didapat oleh individu-individu di dalam
mempersepsikan fungsi sekolah bagi mereka (Robinson, 1981 :
254).
Berbagai pandangan di atas telah menandaskan aspek-aspek
penting yang berperan dan berinteraksi di dalam sekolah. Pada
kenyataannya seluruh konsep manajemen yang ditekankan oleh
masing-masing ahli tersebut selalu tercantum di dalam sekolah.
Tentunya fungsionalisasi masing-masing model manajemen di
atas tergantung pada konteks pandangan manusia yang meng-
amatinya. Apabila pada aspek makro maka dominasi gabungan
fungsi manajemen sistem, sosio-teknis dan ilmiah lebih berperan
penting dalam membantu kerja penglihatan intelektual kita.
Berbeda pada dimensi yang lebih mikro, maka tipe ideal pen-
dekatan individual adalah aspek yang harus diperhatikan dalam
menelah unsur-unsur yang bermain di dalam sekolah.
Dalam hal ini kita akan lebih condong mengamati organisasi
sekolah dalam skala makronya. Analisis sosial yang muncul sepu-
tar sekolah banyak mengupas konflik-konflik antar peranan yang
terjadi di lembaga sekolah. Seperti yang diungkapkan oleh Davies,
1973 ( dalam Robinson, 1981 : 250) bahwa lembaga pendidikan
sering dirasuki oleh nilai-nilai yang terkadang bertentangan
antarpihak baik dari para guru, orang tua, staf birokrat, siswa,
maupun pihak aparat pimpinan sekolah.
Dari sini analisis yang bisa disajikan untuk mengamati kebe-
radaan sekolah sebagai lembaga formal dalam aktivitas pendi-
dikannya terbagi menjadi dua lahan persoalan yakni:
1. Penafisiran multi-konsep tentang tujuan organisasi beserta
alokasi peran yang sinergis
Sudah menjadi konsekuensi bagi setiap organisasi untuk me-
netapkan tujuan lembaga. Berbeda dengan organisasi pada
umumnya, sekolah memiliki ciri khas yang agak unik, khususnya
dari objek yang menjadi tujuannya. Dengan menetapkan posisi
peran kelembagaan yang bertugas untuk membekali peserta didik
seperangkat pengetahuan dan keterampilan maka sekolah telah
mengumandangkan jenis tujuan yang bersifat abstrak. Hal ini
tentu saja berbeda dengan lembaga lain yang jelas-jelas memiliki
objek tujuan konkrit. Contohnya lembaga perusahaan, tentunya
bagi siapa saja akan jelas memahami arti “mencari keuntungan
maksimal” bagi perusahaan. Baik itu manajer pemasaran, direktur
pabrik, buruh angkutan, sopir, sampai tenaga administrasi akan
jelas mengartikan definisi tujuan tersebut. Sementara sekolah
memiliki tujuan yang bersifat multi-penafsiran dan agak kabur.
Selain itu, dimensi abstrak yang menjadi titik tolak penafsiran
para praktisi sekolah dapat memunculkan hambatan besar untuk
menyatukan pemahaman makna tujuan pendidikan antar posisi.
Berdasarkan struktur organisasi yang terbentuk, guru bertugas
sebagai pelaksana pengajaran kepada siswa, supervisor berfungsi
membina para guru dan tugas formal administratur sekolah ialah
untuk mengkoordinasikan dan memadukan berbagai ragam
aktivitas dalam lingkungan sekolah. Masing-masing pemegang
posisi mempunyai hak dan kewajiban tertentu dalam hubungan
dengan posisi lain. Sudah tentu kompleksitas peranan menimbul-
kan nilai sosial yang berbeda-beda dan apabila ditarik dalam
suatu prospek tujuan maka akan melibatkan bermacam-macam
penafsiran.
Selain objek tujuan yang sarat nilai, posisi-posisi peran yang
cukup kompleks di lingkup internal, maka sebuah sekolah akan
berhadapan langsung dengan komponen nilai-nilai lain di luar
lingkungannya. Spesifikasi tujuan yang telah ditetapkan oleh
sekolah ternyata harus bersinggungan erat dengan alokasi peran
pendidikan di luar sekolah, terutama keluarga. Berkaitan dengan
hal tersebut, suatu observasi ilmiah yang dilakukan oleh Univer-
sitas Havard telah menunjukkan hasil yang cukup dramatis.
Setelah diteliti, para guru di sekolah-sekolah New England memi-
liki pandangan yang berbeda tentang tujuan pendidikan, begitu
juga antar guru dengan kepala sekolahnya, selain itu indikasi
serupa ditunjukkan perbedaan nilai antar administratur dengan
Badan Pertimbangan Sekolah. Lebih jauh bukti penelitian juga
menunjukkan sumber utama yang melahirkan konflik di kalangan
praktisi sosial tentang tujuan dan program-program sekolah
(Faisal, 1985: 69).
Dipandang dari sudut tujuannya ternyata lembaga sekolah
harus melakukan bermacam-macam proses penyatuan pandangan
baik dari wilayah internal maupun asumsi-asumsi publik di
lingkup eksternal. Telaah sosiologis telah memberikan sumbangan
konseptual untuk membedah objek tujuan sekolah dalam pola-7
pola hubungannya dengan pihak internal maupun luar lembaga
sekolah.
2. Kompleks permasalahan di sekitar orientasi lintas posisi
dalam koridor efisiensi dan efektivitas
Kompleks pertentangan tersebut merupakan derivasi dari
perangkat-perangkat manusia yang memiliki peran-peran spesifik
di lembaga sekolah. Banyak buku teks yang mengemukakan
tentang peranan guru dan adminsitratur pendidikan seolah-olah
harmonis dan serba sinergis. Padahal kenyataan membuktikan,
salah satu faktor yang memberatkan kerja organisasi adalah gejala
kesalahpahaman untuk memahami kawan sekerja berkenaan
dengan hak dan kewajiban yang berbeda sesuai dengan status
pekerjaannya.
Kecenderungan yang terjadi, hampir semua tanggung jawab
dan tugas sekolah yang berhubungan dengan siswa selalu dilim-
pahkan kepada seorang guru. Sedangkan pemberitaan fungsi-
fungsi peran yang berbeda baik dari aspek bimbingan konseling,
pelayanan birokrasi dan keuangan, serta peran penegak ketertiban
dan kedisplinan tidak pernah tersiar secara utuh kepada para
siswa.
Dalam analisis sosiologis, konflik peranan di lingkup internal
sekolah disebabkan pada rangkaian hak dan kewajiban yang
mempengaruhi harapan para pemegang status pekerjaan. Ruang-
ruang kesadaran peran tersebut telah terpecah belah pada
akumulasi integrasi yang terkotak-kotak pada masing-masing
kelompok pekerjaan. Dalam waktu yang sama kepala sekolah
mengharapkan para guru selalu tertib dalam melaksanakan
pengajaran. Sementara guru sendiri selalu berkeinginan mem-
berikan ragam materi yang selengkap-lengkapnya kepada para
siswa. Hal ini tentu bertentangan dengan asumsi umum para
siswa yang jelas-jelas berharap agar para guru tidak terlalu banyak
menyodorkan materi yang harus mereka hafalkan.
Hal tersebut tentunya semakin menjauhkan kesadaran warga
sekolah mengenai hakikat mendasar dari fungsi sekolah sebagai
lembaga pendidikan. Mereka semakin jauh terjerumus pada
labirin-labirin pertentangan seputar ritual-ritual teknis pemenu-
han kebutuhan organisasional. Dari sini tujuan awal penerapan
adminstrasi pendidikan untuk mempermudah lembaga sekolah
dalam menjalankan fungsi-fungsi edukatif beralih menjadi raksasa
permasalahan yang selalu menggelayuti mentalitas warganya.
Tentu saja dalam hal ini sumbangsih teori sosiologi cukup
strategis guna memberikan gambaran komperhensif tentang
gurita konflik yang terbentuk di lingkungan sekolah dalam kaitan
pertentangan antarperan. Dengan begitu, para praktisi pendidikan
diharapkan memiliki bahan mentah yang lengkap mengenai pola-
pola sosial yang tersusun di dunia pendidikan formal beserta
varian-varian permasalahannya.
B. Kelas sebagai Suatu Sistem Sosial
Pada dasarnya, proses-proses pendidikan yang sesungguhnya
adalah interaksi kegiatan yang berlangsung di ruang kelas. Untuk
keperluan tersebut pembahasan mengenai kegiatan kelas menem-
pati sub-topik tersendiri dalam susunan kajian topik ini. Dari sudut
sosiologi beberapa pendekatan telah digunakan sebagai alat analisis
untuk mengamati proses-proses yang terjadi di ruang kelas.
Dimulai dari pengamatan Parson yang mengetengahkan argu-
mentasi ilmiahnya tentang kelas sebagai suatu sistem sosial. Ber-
kaitan dengan fungsi sekolah maka kelas merupakan kepanjangan
dari proses sosialisasi anak di lingkungan keluarga maupun masya-
rakat. Kiprah interaksi di kelas secara khusus berusaha untuk
memantapkan penanaman nilai-nilai dari masyarakat (Robinson,
1981 : 127).
Di sisi lain, pendekatan interaksionis cenderung menekankan
analisis sosio-psikologis untuk melihat ruang kelas. Sejumlah tokoh
seperti Delamont, Lewin, Lippit, White dan H.H. Anderson adalah
figur-figur yang mengeksplorasi aspek interaksi antarguru dan
murid. Selaras dengan hal tersebut, Withall, 1949, yang meman-
faatkan karya-karya pendahulunya mencoba menemukan pengaruh
situasi sosial emosional dalam ruang kelas. Ia membedakan antara
metode pengajaran yang cenderung teacher-centred dengan tipo-
logi pembelajaran Learner-centred, dengan beranggapan bahwa
tipe yang kedua merupakan cara yang paling efektif untuk kegiatan
pembelajaran di kelas (Robinson, 1981 : 129).
Dalam satu rangkaian penelitian Flanders,1967 memperkuat
studi tentang interaksi di kelas. Menurut pendapatnya, semakin
besar ketergantungan murid kepada guru, semakin kurang siswa8
tersebut mengembangkan strategi-strategi belajarnya sendiri
(Robinson, 1981 : 130).
Inti dari penerapan analisis interaksi adalah menganalisis selu-
ruh proses interaksi edukatif di kelas dan pengaruh-pengaruh
psikologisnya kepada para siswa. Hal ini terkait erat dengan
metode pendekatan yang diterapkan oleh guru dalam mengelola
pembelajaran di kelas.
Model pendekatan interpretatif juga bermanfaat untuk
menangkap segala hal yang terpola di dalam aktivitas ruang kelas.
Yang termasuk hasil penelitian di lingkup kategori interpretatif
adalah analisis Waller. Bagi Waller, pendidikan merupakan seni
menanamkan definisi-definisi situasi yang berlaku pada kaum
muda dan sudah diterima oleh golongan penyelenggara. Dengan
demikian sekolah merupakan satu alat ampuh untuk melakukan
kontrol sosial (Robinson, 1981: 135). Inti dari studi tersebut
mencoba menerangkan tentang fungsi sekolah yang mempengaruhi
alam kesadaran para siswa untuk selalu konsekuen mengamalkan
kriteria-kriteria penafsiran nilai yang ditekankan oleh sekolah.
Analisis lain juga mengungkap bahwa sumber ketegangan
antarguru dan siswa berasal dari dualisme ketegangan peran guru di
dalam kelas. Sebagai bawahan kepala sekolah seorang guru harus
menerapkan ketentuan administratif sekolah secara ketat kepada
murid-murid, namun di lain pihak tanggung jawab moral sebagai
pendidik yang sarat dengan kebijaksanaan akan menghalang-
halangi penerapan sanksi kepada siswa tersebut.
Sebagai sistem sosial tentunya di dalam kelas telah terbentuk
konfigurasi sosial di dunia pergaulan siswa. Dari sini tampak kon-
sep diferensiasi mengacu pada praktik organisasi penentuan peng-
huni kelas berdasarkan prestasi-prestasi siswa. Tentunya implikasi
dari pengelompokan ini akan berakibat terbentuknya polarisasi
antarkelompok. Baik itu kelompok si bodoh, si kaya, si pandai, dan
si pemalu. Apabila guru mengetahui fakta tersebut dan mampu
mengelola interaksi antarkelompok maka proses penangkapan
pengetahuan menjadi semakin dinamis dan cukup kaya. Sebaliknya
apabila guru cenderung masa bodoh dengan keadaan demikian
justru semakin mempertegas potensi disintegrasi antarsiswa. Pada
umumnya guru secara gegabah juga dengan mudah menuruti
subjektifitas perasaannya untuk menuruti kelompok-kelompok sis-
wa yang menyenangkan perasaannya. Sekali lagi jika hal terakhir
yang terjadi maka kecemburuan sosial malah menjadi iklim pergu-
latan sosial di lingkungan kelas.
Patut ditambahkan, analisis sosiologis juga mengungkapkan
betapa eratnya kaitan antara tingkah laku dan sikap-sikap sese-
orang dengan latar belakang kelompok aspirasi yang digan-
drunginya. Kelompok-kelompok atau aspirasi-aspirasi acuan
merupakan tempat berlabuh yang harus diperhitungkan di dalam
upaya pembinaan tingkah laku siswa. Konsekuensi pentingnya
dari hasil analisis di atas, dapat memberikan wawasan sosiologi
kelas kepada pengajar agar proses pendidikan dan pembinaan
siswa lebih efektif (Faisal dan Yasik, 1985 : 76).
C. Lingkungan Eksternal Sekolah
Kita tahu bahwa sekolah bernaung dalam suatu wilayah eks-
ternal yang dihuni oleh kumpulan manusia bernama masyarakat.
Gejala timbal balik baik dari sekolah kepada masyarakat maupun
sebaliknya merupakan realitas keseharian yang akan selalu terjadi.
Keberadaan sekolah di lingkungan masyarakat kota akan
jelas mempengaruhi orientasi pendidikan tersebut dibanding
dengan sekolah yang terletak di lereng gunung. Baik dari segi
kuantitas peserta didik, maupun kompleksitas kegiatan yang ter-
jadwal pada kegiatan-kegiatan akademik di sekolah. Tentunya
tidak mungkin, sekolah ”lereng gunung” mengembangkan ekstra-
kulikuler yang luar biasa padat dan wajib diikuti oleh seluruh
siswa.
Selain itu aspek kelas sosial juga memberikan pengaruh
evaluasi belajar yang dilakukan oleh seorang guru. Hasil sebuah
pengamatan ilmiah menegaskan ada hubungan kuat antara status
orang tua siswa dengan prestasi akademis. Selain itu mobilitas
aspirasi siswa, kecenderungan putus sekolah, partisipasi siswa
dalam kegiatan ekstrakurikuler, tingkah laku pacaran siswa serta
pola persahabatan di kalanngan siswa tampaknya juga dipenga-
ruhi oleh karakter sosial ekonomis orang tua siswa (Faisal dan
Yasik, 1985 : 77).
Kontribusi berikutnya adalah benturan konflik antarperan
tenaga kependidikan dengan posisi-posisi lain di masyarakat.
Getzel dan Guba menemukan bahwa banyak harapan-harapan
yang terkait dengan posisi guru, pada kenyataannya telah berben-
turan dengan harapan posisi lain di luar persekolahan (Faisal dan9
Yasik, 1985 : 79). Dampak dari konflik ini kadang mengganggu
stabilitas individu atau bisa jadi dapat meluas pada segi-segi
materiil di lingkungan sekolah. Seorang guru olah raga yang
sedang menjadi wasit pertandingan sepak bola antar-kecamatan
tentunya akan menghadapi tuntutan masyarakat mengenai
kemungkinan diizinkannya penggunaan fasilitas sekolah. Akan
tetapi dua hari yang lalu sang guru tersebut baru saja mendapat
himbauan keras dari kepala sekolah agar berhati-hati dalam
menjaga perlengkapan olah raga milik sekolah. Peringatan ter-
sebut bukan tak beralasan, akan tetapi didukung sebuah fakta
tentang peristiwa kehilangan beberapa peralatan seminggu yang
lalu. Fenomena tersebut jelas menyokong suatu posisi bahwa
konflik antarperanan di dalam sekolah dengan lingkungan ekster-
nal merupakan sumber potensial utama dari lahirnya ketegangan
di kalangan praktisi pendidikan, khususnya guru.
Melalaui analisis sosiologis, para praktisi pendidikan bisa
secara realistis peka mengkaji kekuatan-kekuatan majemuk yang
berlangsung dalam konteks penyelenggaraan pendidikan. Dengan
kekuatan analisis-analisis sosiologis para praktisi pendidikan bisa
lebih jeli memperhitungkan faktor-faktor organisasi, budaya, dan
personal di lingkungan kerjanya masing-masing.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar