baca selengkapnya di : http://www.poetra-anoegrah.co.cc/2010/04/cara-mengubah-judul-blog-dengan-judul.html#ixzz1Ie8isVZF

Klik Kanan

Senin, 18 Oktober 2010

UPAYA MEMBANGUN PARADIGMA INSTRUMENTAL

A. Pandangan Umum

Wilayah kajian pendidikan dapat dilihat dari berbagai dimensi. Buchori (1994) melihatnya dari dua dimensi, yaitu dimensi lingkungan pendidikan, dan dimensi jenis pendidikan. Sedangkan soedomo (1990) menambahkannya dengan dimensi waktu, dan dimensi ruang atau geografis.
Dilihat dari dimensi lingkungan pendidikan, maka wilayah kajiannya meliputi: pendidikan dalam lingkungan keluarga, pendidikan di sekolah, dan pendidikan di luar sekolah. Dilihat dari dimensi jenis permasalahan pendidikan, maka wilayah kajian pendidikan meliputi: masalah landasan pendidikan (foundation problem of education), dan masalah operasional pendidikan (structural problem of education). Dilihat dari dimensi waktu terdapat tiga masalah dalam pendidikan, yaitu masalah kontemporer, masalah kesejarahan, dan masalah masa depan. Dan dilihat dari dimensi ruang geografik terdapat dua masalah, yaitu; masalah pendidikan di Indonesia, dan masalah pendidikan di Negara-negara atau masyarakat di luar Indonesia.
Jika ditilik dari berbagai dimensi diatas, maka filsafat pendidikan dapat dikategorikan kedalam masalah landasan pendidikan (foundarion of education). Dalam konteks masalah fondasional, langgulung (1988) berpendapat bahwa ada enam azas yang menjadi landasan tegaknya aktifitas pendidikan, yaitu: azas historis, azas sasial, azas ekonomi, azas politik, azas psikologis, dan azas filsafat. Dari keenam tersebut, maka filsafat pendidikan merupakan suatu masalah fondasional yang berusaha memberikan kemampuan memilih yang lebih baik, member arah suatu system, mengontrolnya, dan memberikannya arah kepada kelima azas yang lain.
Menurut penulis, disamping keenam azas tersebut, masih perlu ditambah dengan azas theologies (islam), yang menurut Brubacher (1978) disebut dengan theology of education (teologi pendidikan), terutama dalam pemikiran (filsafat) pendidikan islam. Dengan basic assumption (kepercayaan) bahwa ada sesuatu yang diyakini sebagai realitas, kebenaran dan kebaikan menurut islam, misalnya: ibadah madhlah, dan hari kiamat, malaikat, hidup di akhirat, dan sebagainya yang tidak bias dijangkau dengan metode berfikir reflektif (metode berfikir filsafat), tetapi justru melalui keimanan. Semua perlu dipegangi dan ditegakkan dalam aktifitas pendidikan. Azas theologies juga mengansumsikan bahwa setiap aktifitas berfikir selalu bertolak dari pengakuan, bahwa segala sesuatu merawal dari Allah dan berakhir kepada Allah juga.
Azas theologies sebenarnya dapat dikategorikan sebagai azas filsafat. Hanya saja dalam tradisi filsafat terdapat dua kubu: yaitu kubu yunani yang skularistik dan antroposentris, dimana azas theologies tidak mendapatkan tempat di dalamnya, dan filsafat teosentris, yang di dalamnya memuat azas theologies. Bila yang dimaksud filsafat adalah konteks yang pertama, maka penulis perlu menambah azas theologies, sebaliknya pada kubu ke dua, karena akan berimplikasi pada pembangunan konsep pendidikannya.[1]
Menurut mastuhu (1995), bahwa pendidikan sekuler bertolak belakang dari landasan / dasar filsafat yang skularistik dan antroposentris, dimana konsep antroposentris merupakan bagian esensial dari konsep teosentris. Kedua konsep pendidikan tersebut mempunyai perbedaan yang mendasar dalam membangun konsep tujuan pendidikan, konsep manusia, nilai, system / tanggung jawab pendidikan dan lain-lain.
Para ahli pendidikan telah membahas beberapa persoalan komponen pokok aktivitas pendidikan yang menjadi bahan kajian dalam buku-buku / karya mereka, bahkan menjadi bahan kajian filsafat pendidikan islam, sebagai uraian berikut:
  1. Al-Syaibani (1979) menyoroti tiga permasalahan dalam pendidikan yang meliputi falsafah pendidikan, falsafah kurikulum, dan falsafah metode pendidikan.
  2. L-Ainain (1980) dalam bukunya Falsafah At-Tarbiyah Al-Islamiyah Fi Al-Qur’an Al-Karim mengkaji tiga persoalan pokok dalam pendidikan yang meliputi hakikat-hakikat Ahdaf At-Tarbiyah Al-Islamiyah (medan lingkup pendidikan islam) yang meliputi At-Tarbiyah Al-Jasadiyah (pendidikan jasadi / asmani) At-Tarbiyah Al-Aqliyah (pendidikan akal) At-Tarbiyah Al-Aqaidah (pendidikan aqidah) At-Ta Rbiyah Al-Ahlaqiyah (pendidikan akhlaq) At-Tarbiyah Al-Wijdaniyah (pendidikan rasa / hati) At-Tarbiyah Al-Ijtimaiyyah (pendiidkan kemasyarakatan) dan Thuruq At-Tarbiyah Al-Islamiyah (metode-metode pendidikan islam)
  3. Ellis, Cogan dan Howay (1986) mengemukakan empat persoalan yaitu: hakikat-hakikat purpose (tujuan pendidikan) cucicullum and method (kurikulum dan metode pendidikan), ruuule of the teacher (peran guru atau pendidik), dan rule of the school (peran sekolah atau lingkungan pendidikan.)
  4. Arbi (1988) mengemukakan empat persoalan pokok: yaitu siapa yang dididik (hakikat peserta didik) hakikat atau maksud dan tujuan pendidikan, serta hakikat kurikulum dan metode.
  5. Abdullah (1982) telah mengkaji teori-teori dalam pendidikan menurut Al-Qur’an dalam lima persoalan pokok, yaitu: the nature of human nature (hakikat sifat dasar manusia), the nature of knowledge and the rule of aql in its acqiuisition (hakikat pengetahuan dan peran akal dalam perolehannya), the aims of education (tujuan pendidikan), the content of education (isi / materi pendidikan), dan method of education (metode pendidikan).
  6. Qahar (1983, h. 104) mengemukakan lima persoalan pokok dalam pendidikan, yaitu nilai-nilai yang seharusnya menjadi dasar pendidikan dan pandangan hidup, pandangan tentang manusia ynag dididik, tujuan pendiidkan dan system dan praktek pendidikan, dan bahan pendidikan.
  7.  Muhadjir (1987,h 2-10) menyoroti persoalan pendidikan dari segi unsur-unsur dasar dan komponen-komponen pokoknya, yaitu hakikat-hakikat: tujuan pendidikan, program pendidikan (sebagai perwujudan dari idealism, cita-cita, tuntutan masyarakat dan kebutuhan tertentu), subyek didik, pendidik, metode pendidikan, dan konteks belajar. Menurut penulis, beberapa persoalan tersebut sekaligus menjadi bidang kajian filsafat pendidikan.
  8. Rasyad (1995) menyatakan bahwa unsure-unsur esensial yang dibahas dalam pendidikan islam adalah: agama islam, manusia yang dididik dan pendidik, tujuan pendidikan islam, cara-cara mendidik, alat pendidikan, lingkungan pendidikan, dan evaluasi pendidika.
  9. Ahmad Tafsir (1995, h 98-99), bahwa persoalan pokok pendidikan mencakup hakikat-hakikat: tujuan pendidikan, pendidik, anak didik, alat-alat pendidikan yang meliputi kurikulum (bahan pengajaran), metode pengajaran, evaluasi, pembiayaan (gaji), serta peralatan yang berupa benda; dan kegiatan pendidikan
Dari pendapat beberapa ahli pendidikan tersebut dapat diketahui adanya persamaan dalam menyajikan persoalan-persoalan serta hakikat komponen-komponen pokok aktifitas pendidikan sebagaimana tertuang dalam buku-bukunya.
  1. Landasan Filosofis
Dilihat dari aspek filosofis, ika paradigm pendidikan islam sebagai upaya pengembangan hidup islami, yang di wujudkan dalam sikap hidup dan dimanifestasikan dalam keterampilan hidup sehari-hari, maka pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi akan bertolak belakang dari pandangan teosentris dimana konsep antroposentris merupakan bagian esensial dari konsep teosentris. Karena itu, proses dan produk pencarian, penemuan iptek lewat studi, penelitian dan eksperimen, serta pemaanfaatan dalam kehidupan, merupakan realisasi dari misi kekhalifahan dan pengabdiannya kepada Allah di dunia dalam rangka mencari  keridloan-Nya dalam kehidupan ukhrawi.
Secara ontologis, ilmu pengetahuan agaknya bersifat netral, dalam artian ia tidak bias bersifat slami, kapitalis, sosialis, komunis, dan lain-lain.  Dalam IPA misalnya, daya tarik (grafitasi) tidak dapat ditarik kea rah tertentu, demikian pula ilmu-ilmu yang lain. Statemen ini benar-benar adanya jika ilmu pengetahuan itu menerangkan hakikat yang ada. Tetapi ketika menjelaskan perubahan yang ada atau apa yang terjadi, dan atau cara memanfaatkan hukum alam dan mengarahkannya kea rah tertentu, maka ilmu pengetahuan tidak benar bersifat netral. Darwin (1809-1882 M) tidak bias dikatakan netral ketika menggunakan peristiwa-peristiwa ilmiah untuk mencapaikesimpulan bahwa manusia itu berasal dari kera. Freud (1856-1839), tidak dapat dikatakan netral ketika memanfaatkan fenomena kejiwaan agar bias mencapai kesimpulan / natijah memberikan kebebasan nafsu adalah suatu keharusan. Marx (1817-1883) yang menciptakan teori ekonomi komunis, tidak bias dikatakan netral ketika mengatakan benda adalah asal dari segala wujud, dan factor ekonomi adalah satu-satunya kunci sejarah dan factor penggerak peristiwa kehidupan ini.
Pengembangan pendidikan islam, dengan demikian, bertolak belakang dengan konstruk atau epistemology bahwa yang vertical (ajaran dan nilai-nilai Illahi) merupakan sumber konsultasi, sentral dan didudukkan sebagai ayat, furqan, hudan, dan rahmah. Sedangkan yang horizontal (pendapat, konsep, teori-teori, penemuan ilmu pengetahuan dari sarjana muslim dan non muslim dan sebagainya) dalam posisi sejajar yang sering terjadi sharing ideas, untuk selanjutnya dikonsultasikan kepada ajaran dan nilai-nilai Ilahi, terutama yang menyangkut will exist atau dimensi aksiologi.[2]
                                   


Dr. Muhaimin. MA wacana pengembangan pendidikan islam PSAPM hlm 32-35
Dr. Muhaimin. MA wacana pengembangan pendidikan islam PSAPM hlm 247

Tidak ada komentar:

Posting Komentar